black facebookTernyata asyik ya menggunakan Facebook itu? Pasti dong… dengan segudang layanan yang dimiliki oleh Facebok pasti membuat kita merasa nyaman dan betah bermain Facebook. Tapi ingat menggunakan Facebook jangan terlalu lama dan sering dikarenakan dapat membuat kita lupa belajar, lupa kerja, hingga lupa waktu. Ada beberapa riset yang dilakukan di luar negeri menerangkan bahwa Facebook ini dapat menyebabkan addicted alias kecanduan bagi siswa/mahasiswa sehingga dapat menurunkan prestasi akademik siswa/mahasiswa tersebut bahkan ada yang mendapatkan scorsing akibat kecanduan Facebook. Selain itu ada beberapa kasus kejahatan yang dilakukan oleh orang lain akibat menggunakan Facebook ini, semisal: penipuan, rasisme, hingga pembunuhan.

Black Effect of Facebook

  1. Broadcast effect: fasilitas wall yang dimiliki Facebook memungkinkan tiap orang yang telah berteman membaca dialog yang kita lakukan di wall. Sebagaimana tiap orang bisa membaca apa pun yang tertulis di sebuah tembok (wall) yang kita lewati. Cara terbaik memanfaatkan wall adalah mempelajari privacy setting. Ada yang menutup sama sekali fasilitas wall, tapi ada juga yang hanya membuka bagi yang menulis, namun jawaban kita sebagai pemilik akun, tak ditampilkan. Untungnya Facebook masih menyediakan fasilitas message yang masih menjaga percakapan hanya terjadi diantara pengguna message. Persis seperti fasilitas e-mail yang kita miliki.
  2. Self-Explore effect: tak dapat dipungkiri, Facebook pada akhirnya menjadi etalase pribadi paling efektif. Dalam bahasa pertemanan, Facebook bisa menjadi tempat menampilkan citra kesempurnaan diri bahkan sampai tingkat yang sangat detil dan sempurna (narcism) utamanya melalui rangkaian foto-foto yang melengkapi profile pemilik akun. Bagi yang menyadari narcism sulit dilakukan di dunia off-line (baca : dunia nyata), Facebook-lah tempatnya. Namun, bisa jadi malah sebaliknya bahwa bahkan di dunia online pun seseorang ternyata tidak juga bisa ‘memperbaiki citra diri’ mereka. Artinya, tetap saja humor dan lelucon yang sering dilakukan secara off-line, tetap mengikutinya di dunia online juga. Sah-sah saja. Karena akun Facebook adalah milik anda sendiri, maka andalah sutradara sekaligus investornya. Saran terbaik adalah tetap menjadi diri sendiri.
  3. Addiction effect: sulit mengingkari bahwa Facebook dengan segala fasilitasnya bisa menjadikan pemilik akun ketagihan. Sering kita baca ulasan di media bagaimana seorang pemilik akun Facebook begitu ketagihan, karena akhirnya dimanapun ia berada maka koneksi Facebook menjadi perhatiannya dari mulai berangkat kantor, di jalan, di kantor bahkan sampai kembali ke rumah. Pusat perhatiannya adalah Facebook. Dalam beberapa hal mungkin ini bisa mempengaruhi produktifitas kita. Bahkan penggunaan perangkat tertentu yang dengan cerdik memanfaatkan koneksitas antara lain dengan Facebook ini, bisa-bisa menciptakan autisme sosial: dimana saja, kapan saja asyik memainkan jemarinya hingga tanpa sadar lift yang ia tumpangi telah menyisakan ia seorang diri, bahkan sampai diibaratkan sang ibu akan membawa laptopnya ke surga karena tak mau kehilangan kontak dengan Facebook. Facebook memang mendekatkan yang jauh, tapi terkadang menjauhkan yang sudah dekat.
  4. Intelligence effect: dengan berbagai kemudahan mendapatkan informasi, Facebook memang bisa menjadi ‘agen rahasia’ bagi orang lain. Itulah yang kemudian memunculkan cerita sendu (bahkan seram) para pemilik akun. Buku Step by Step Facebook karya Sartika Kurniali mencatat beberapa kasus nyata yang terjadi sebagai akibat penggunaan Facebook. Karena itu banyaknya teman ‘maya’ yang dihimpun bukanlah sebuah ukuran. Saran terbaik memang tetap selektif melakukan proses add friend maupun confirm friend.

Popularitas situs jejaring sosial yang semakin hari semakin berkembang membawa dampak yang cukup besar bagi kehidupan seseorang di dunia nyata. Survei terbaru di Inggris, menyebutkan situs jejaring sosial seperti Facebook telah mengubah kehidupan individu/seseorang. Telegraph.co.uk, Minggu (3/5/2009) melansir dari sekira 1600 orang, hampir 50 persennya mengaku telah mengalami perubahan dalam hidupnya akibat keseringan menghabiskan waktu bermain situs jejaring sosial.

Hasil survey menunjukkan, orang-orang Inggris kini terkesan lebih tertutup alias introvert terhadap keluarga ataupun teman.

  • Introvert merupakan pribadi yang bersifat menyendiri dan biasanya lebih pendiam dan tertutup, sedikit bicara dan lebih suka menjadi pendengar yang baik dalam suatu kelompok. Orang introvert umumnya pendiam, sensitif, gampang terprovokasi, dan memiliki sedikit teman daripada kerumunan orang. Tak hanya itu, bermain situs jejaring sosial juga mengurangi waktu percakapan dengan panggilan telepon, atau mengirim pesan singkat kepada kawannya.

Inggris dapat dikatakan sebagai Negara yang kecanduan situs jejaring sosial, hampir 50% generasi mudanya memiliki akun di minimal satu situs jejaring. Sedangkan urutan kedua adalah Amerika Serikat dengan 40%, Perancis dengan 27%, dan Jepang dengan 33%.

Kesimpulan

Facebook memiliki segudang kelebihan dan kekurangan yang ada didalamnya. Nah dari uraian diatas kita dapat menarik beberapa kesimpulan bahwa Facebook adalah sebuah alat, bukan tujuan. Tetaplah kita sebagai pemilik akun “man behind of the gun“, semua tergantung kita karena banyak hal positif yang ditawarkan dalam Facebook ini, apabila kita bisa memanfaatkan dan memaksimalkan penggunaannya dengan baik dan benar maka hal ini dapat menunjang produktifitas kita dalam bekerja, membangun silaturahmi, berdakwah, hingga membangun sebuah komunitas untuk kepentingan bisnis kita.

Referensi: Berbagai sumber